GETARAN ILAHIYAH ENERGI RUQYAH - Pondok Pesantren Rehabilitasi Qur,anic Healing Indonesia

Pusat Rehabilitasi :

Rabu, 23 Mei 2018

GETARAN ILAHIYAH ENERGI RUQYAH


GETARAN ILAHIYAH ENERGI RUQYAH
Oleh : Perdana Akhmad, S.Psi
(Founder QHI, Mudir Ma’had Pendidikan Al-Abror)
1.Energi Getaran
Kekuatan energi sebanding dengan tingkat kehalusan gelombangnya. Semakin tinggi frekuensi, semakin tinggi pula energi. Semakin kasar gelombang nya, semakin rendah pula energinya.
Contoh, energi mekanik adalah energi yang paling kasar. Maka, kekuatan yang dihasilkan oleh energi mekanik masih kalah dengan kekuatan yang dihasilkan energi listrik atau energi kimiawi. Tapi energi listrik atau kimiawi bakal kalah dengan energi atom atau nuklir. Sedangkan energi nuklir bisa kalah oleh energi ‘Makna’.
Energi ‘makna’ itulah yang tersimpan di dalam Al-Qur’an. Yang oleh Allah dikatakan bisa menghancurkan gunung. Bahkan orang mati pun dapat berbicara kembali karenanya, dengan seizin Allah. Itu difirmankanNya dalam beberapa ayatNya.
QS. Al Hasyr (59) : 21
“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.”
QS. Ar Ra’d (13) : 31
“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu Al-Qur’an itulah dia).
Sebenarnya segala itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.”
Dua ayat di atas menggambarkan betapa dahsyatnya energi makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Energi yang bisa menghancurkan gunung atau mengidupkan orang mati. Secara tersirat Allah menggambarkan betapa Energi Makna itu lebih dahsyat dari energi kimiawi dan energi atomik, yang mengikat material penyusun gunung.
Sebagaimana kita ketahui, gunung tersusun dari atom-atom yang mengikatkan diri menjadi molekul, dan kemudian membentuk batu-batuan penyusun badan gunung. Ternyata energi ikat yang menyatukan atom dan molekul-molekul itu bisa tercerai-berai akibat Energi Makna yang dikenakan padanya.
Manusia yang bergerak dengan kecepatan tinggi (mendekati kecepatan cahaya) badannya juga bisa tercerai berai menjadi atom-atom. Atau bahkan menjadi pertikel-partikel sub atomik. Ini disebabkan, energi ikat partikel-partikel itu kalah oleh energi yang timbul akibat kecepatan tersebut.
Dalam peristiwa yang berbeda, ‘Energi Suara’ juga bisa difokuskan untuk menghancurkan onggokan benda tertentu. Kalau ada suara dengan intensitas dan frekuensi yang dipusatkan kepada suatu benda, maka suatu ketika benda itu bisa hancur. Karena kekuatan ikatan molekul-molekulnya kalah oleh energi suara yang dihasilkan.
Secara tidak langsung, hal itu terbukti pada kejadian ‘sonic boom’ alias ‘bom suara’ Biasanya, terjadi ketika ada sebuah pesawat jet terbang sangat rendah. Jika di dekatnya ada rumah berkaca, maka seringkali terjadi kaca-kaca rumah itu hancur terkena getaran suara yang sangat keras dari mesin jet. Kaca-kaca itu hancur disebabkan oleh suara jet dengan intensitas sangat tinggi yang ‘menghantam’ kaca-kaca tersebut. Kejadian semacam sonic boom itu juga digambarkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, bahwa gelombang suara bisa memiliki energi besar yang bersifat menghancurkan, dan mematikan.
QS. Huud (11) : 67
“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya.”
QS. Huud (11) : 94
“Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.”
QS. Al Hijr (15) : 83
“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi,”
QS. Al Mu’minuun (23) : 41
“Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu.”
QS. Al Ankabuut (29) : 40
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
QS. Al Hijr (15) : 73
“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika Matahari akan terbit.”
Dalam cerita itu, tergambar betapa suara yang yang terkonsentrasi dengan intensitas tinggi bisa menghasilkan energi dahsyat yang menghancurkan. Kekuatannya bisa mengalahkan energi ikat kimiawi yang ada pada benda-benda yang dikenainya. Bahkan mungkin, kalau dikonsentrasikan lebih fokus lagi, bisa mengalahkan energi ikat molekulernya. Benda-benda itu bukan hanya hancur menjadi serpihan, melainkan terburai menjadi molekul-molekul penyusunnya.
Nah, gelombang ‘Makna’ bisa memiliki energi yang jauh lebih besar dari gelombang suara. Kalau gelombang suara saja bisa menghancurkan benda dan mematikan makhluk hidup, maka energi yang muncul dari gelombang ‘makna’ bisa menghancurkan gunung dan menjadikan orang mati bisa bicara.
Kenapa bisa demikian? Sebab yang ‘diserang’ oleh gelombang makna bukan pada struktur benda atau material kimiawi atau fisiknya, melainkan pada substansi dasar yang tersimpan di balik struktur benda.
Pada benda mati, substansinya ada pada ‘sesuatu’ yang menjadi peralihan antara benda dan energi. Sedangkan pada makhluk hidup, substansinya berada pada program-program genetiknya.
Hakikatnya substansi dasar benda di alam semesta ini sebenarnya bukanlah materi atau energi. Melainkan ‘sesuatu’ yang menjembatani materi dan energi. Sampai sekarang, ‘sesuatu’ itu memang belum terdeteksi sempurna.
Tapi, kecurigaan ke arah itu semakin besar. Pada skala sub atomik, partikel-partikel penyusun benda menunjukkan ukuran yang semakin kecil, dan semakin kecil. Atom yang dulu dianggap sebagai bagian terkecil dari benda, ternyata juga tersusun dari puluhan bahkan ratusan partikel.
Dan menariknya, kini partikel-partikel itu juga diketahui tersusun dari sesuatu yang berukuran lebih kecil lagi yang disebut Quark, semacam pilinan energi. Mulai terungkap juga, bahwa Quark itu juga tersusun dari sesuatu yang lebih kecil lagi, dan seterusnya.
Pada suatu ketika partikel yang masih bersifat materi, tiba-tiba lenyap sifat materinya dan berubah menjadi energi. Di ‘peralihan’ itulah sebenarnya substansi dasar keberadaan segala sesuatu. Materi dan energi hanyalah sekadar penampakan dari ‘sesuatu’ itu. Kadang tampak sebagai materi, kadang tampak sebagai energi.
Nah, gelombang Makna bekerja pada ‘sesuatu’ yang berada di peralihan antara materi dan energi tersebut. Maka, energi ini sebenarnya memiliki potensi yang lebih dahsyat dibandingkan dengan energi nuklir. Sebab energi nuklir bekerja pada struktur inti atom, yaitu energi ikat antara partikel-partikel penyusun atom. Sedangkan energi Makna bekerja pada bagian yang lebih halus lagi yaitu penyusun partikel-partikel. Atau ‘penyusun’ energi-energi.
Sementara itu, pada makhluk hidup, energi Makna bekerja pada sistem pemrograman yang ada di dalam inti sel. Sistem pemrograman itulah yang menjadi inti dari kehidupan. Jika program di dalam inti selnya memerintahkan proses-proses yang mengarah pada kehidupan, maka makhluk yang sudah mati pun bakal hidup kembali. Sebaliknya, jika program tersebut memerintahkan terjadinya proses-proses yang mengarah pada kematian, maka makhluk hidup pun bakal mengalami kematian.
Hal ini dikemukakan oleh Allah di dalam berbagai firmanNya. Bahwa penciptaan segala sesuatu dimulai dengan perintah : ‘kun fayakun’ (jadi, maka jadilah). Artinya, segala sesuatu memang dimulai dari energi informasi atau energi Makna yang tersimpan di dalam Perintah itu. Energi Penciptaan yang demikian dashyat itu tersimpan di dalam Makna kalimat ‘kun fayakun’
QS. Al A’raaf (7) : S4
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”
QS. Al Hajj (22) : 65
“Apakah kamu tiada melihat bahwasannya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintahNya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.”
QS. Yasin (36) : 82
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka teriadilah ia.”
Ayat yang terakhir ini, sangat jelas mengatakan bahwa jika Allah ‘Menghendaki’ sesuatu, maka Dia cukup memberikan PerintahNya dengan kalimat “Kun’ (jadilah), maka jadilah ia. Itulah inti utama dari seluruh pemrograman yang tersimpan di dalam inti sel makhluk hidup, maupun yang tersimpan di dalam inti atom berupa ‘sesuatu’ yang menjadi peralihan antara materi dan energi.
Coba ingat perkembangan terakhir dari penemuan Brain Computer Interface (BCI), bahwa seseorang bisa mengoperasikan peralatan-peralatan elektronik hanya dengan kehendaknya saja, lewat sebuah program-program komputer.
Dalam skala yang lebih besar, itulah yang terjadi dengan alam semesta, yang dikendalikan oleh Allah. KehendakNya berjalan lewat sebuah ‘Komputer’ berupa bahasa ‘Pemrograman’ yang tersimpan di bagian-bagian elementer penyusun benda dan makhluk hidup di sekitar kita …
2.Energi Getaran dalam Hati
Muhamad Kurtubi menjelaskan ; Apa jadinya dunia, kalau tidak ada getaran. Bunyi-bunyian adalah produk dari getaran yang simultan. Semakin lemah getaran, semakin longgar frekuensi getarannya. Semain keras getaran, semakin rapat frekuensinya. Maka kita berterima kasih kepada Heinrich Hertz (1857-1894), Macaroni yang mampu membuat teori getaran sehingga para pakar gelombang suara mampu menghasilkan berbagai temuannya.
Konon, energi terpancar melalui getaran. Manfaatnya dapat memberikan tenaga gerak pada segala sesuatu. Misalnya matahari sebagai sumber energi. Getaran hasil reaksi fusi di dalam matahari mampu memancarkan foton-foton yang membentuk cahaya. Lalu ia mampu menumbuhkan tanaman. Kemudian daun-daun hijau (klorofil) menghasilkan oksigen. Gerakan oksigen yang terpancar di udara inipun kemudian dimanfaatkan manusia dan mesin-mesin untuk bernafas sehingga menggerakan energi berikutnya.
Getaran Listrik juga demikian. Gaya gerak listik (GGL) yang tercipta dari hasil fluktuasi magnet pada generator menghasilkan ion positif dan negatif. Dari keduanya kemudian mengalir dengan deras ke selang-selang kabel sehingga mampu menghidupi mesin-mesin listrik dan lampu-lampu. Sehingga dunia menjadi ramai dan memakmurkan penduduk bumi.
Bunyi-bunyian tercipta dari getaran. Suara yang keluarkan mulut seseorang, dihasilkan dari getaran pita suaranya. Lalu udara sekitarnya bergetar dan gelombangnya ditangkap membrane dalam genderang telinga sehinggalah segala ucap dimengerti. Begitu pula suara yang dikeluarkan dari audio stereo digetarkan oleh membrane yang terdapat dalam speaker dan digetarkan ke udara lewat foton dan ditangkap lagi oleh genderang telinga yang bergetar. Sehinggalah dari getaran ini pula semua kata/lagu dimengerti.
Keimanan (rasa beragama) juga timbul dari getaran. Getaran ini mirip gelombang sinus istilah Nabi ﷺ: kadang yazid kadang yankus ( naik turun). Namun demikian seperti contoh di atas, orang masih ada keimanannya (rasa keberagamaanya) saat waktu kritis pun masih mau mengerjakan misalnya shalat. Getaran sosial pun juga. Ketika melihat ada tetangga membutuhkan, ia tergerak untuk membantu tanpa ingin dipuji atau semisalnya. Bagi pemimpin yang bergetara rasa keagamaanya, ia tidak mau sedikitpun untuk korupsi dan lain-lain.
Dalam sebuah ayat Al-Qur’an menyebutkan kalimat: “wajilat qulubuhum” hati mereka bergetar. “waidza tuliyat ‘alaihim ayatuhu, zaadathum imaana”, kemudian jika dibacakan ayat-ayat (Al-Qur’an) bertambahlah keimanan mereka. Dengan demikian, adakah hubungan yang signifikan antara getaran hati dengan rasa keberagamaan seseorang ?
Boleh jadi, rasa beragama merupakan citra yang didapat hasil dari bergumulnya keagamaan seseorang dalam kesehariannya. Namanya rasa, ada rasa manis, pahit, asem atau getir. Nah, karena agama bersifat meruhani tentu saja rasa ini pun sifatnya ruhani. Ternyata, jika dirunut-runut, rasa beragama ini bermula dari getaran hati karena reaksi pada dzikir kepada Allah. Misalnya pada ayat di atas, “jika mengingat akan Allah, hatinya bergetar.”
Sebagai contoh kecil, Misalnya pengalaman yang mungkin menimpa saya, Anda, teman saya atau siapapun. Pernah suatu ketika saat hendak mengerjakan shalat ashar namun waktu sudah mendekati finish (maghrib). Ketika mendengar atau melihat jam sudah setengah enam, saat itu, di musholla/Masjid terdengar pengajian menjelang maghrib. Kondisi di jalanan tengah macet luar biasa. Lalu dipaksakanlah mampir di masjid untuk segera mengerjakan shalat karena khawatir tidak kebagian waktu. Meskipun mengerjakan shalat ashar itu menjelang maghrib, maka konon, siapaupun orang ini dalam hatinya masih mampu bergetar. Padahal itu hasil mendengarkan pengajian dari speaker atau saat melihat jam tangan.
Bayangkan jika tidak ada getaran dalam hatinya, jangankan mendengarkan suara pengajian, mendengar adzan saat waktu shalat tiba saja mungkin tidak akan memperdulikannya. Apalagi menjelang waktu shalat hampir selesai. Kadang terdengar ungkapan: “Masa bodoh ah!”, “baju saya kotor” atau ungkapan “nanti saja lah shalatnya” dan seterusnya. Tuhanlah yang mengetahui getaran sehalus apapun yang dipancarkan oleh Hati manusia. “Inaallaha alimun bidzatissuduur” (Allah mengetahui getaran yang dihasilkan oleh hati manusia).
Nabi ﷺ, adalah contoh yang paling hebat getaran hatinya. Diceritakan dalam berbagai versi hadits dimana Rasulullah ﷺ shalat malam hingga menjelang subuh. Dengan rakaat yang panjang-panjang dan seringkali menangis. Hingga pada saat hampir masuk waktu subuh, sahabat Bilal bertanya: “Ya Rasulullahﷺ, mengapa Anda menangis bukankah Anda orang yang dijamin Allah masuk syurga.” Lalu Rasulullah ﷺ menjawab: “Aku belum menjadi hamba yang bersyukur”.
Sahabat Ali, saat mendengarkan adzan berkumandang, muka beliau pucat karena akan menghadap Allah. Kemudian cucunya, Ali Zainal Abidin, saat setelah berwudlu, mukanya pucat sekali. “Mengapa tuan mukanya, pucat?” tanya seseorang. “Bukankah kita akan menghadap Allah (shalat).” Jawab beliau.
Akhirnya, getaran frekuensi merupakan gejala alam (sunnatullah) ini berlaku kepada alam makrokosmos. Demikian pula alam mikrokosmos seperti atom. Di dalamnya terdapat elektron yang senantiasa bergetar tiada henti. Alam jiwa seperti hati yang kita miliki pun terus-menerus bergetar yang getarannya mampu mencapai Arasy…
3.Gelombang Getaran Suara Qur’ani
Hukum yang mengatur fisika quantum telah menunjukkan bahwa segala sesuatu di alam semesta terbentuk dari medan yang bergetar dan tidak terkecuali dengan tubuh manusia.
Suara dikenal sebagai bentuk energi bergetar yang paling penting karena ia menciptakan segala bentuk yang lain. Ia bisa menciptakan berbagai bentuk dari medan yang berbeda ini, dan getaran dari sumber manapun bisa mempunyai pengaruh yang menguntungkan maupun merugikan bagi kesejahteraan kita secara keseluruhan.
4.Bagaimana Penyembuhan Suara Bekerja?
Menurut penelitian ilmu pengetahuan, tubuh biasanya bergetar pada frekuensi tertentu. Ini berarti setiap organ, setiap tulang, setiap sel di dalam tubuh bergetar pada frekuensi masing-masing. Ketika suatu organ di dalam tubuh tidak selaras, maka ia akan mempengaruhi seluruh tubuh dan orang tersebut jatuh sakit. Melalui prinsip resonansi, maka sangat memungkinkan untuk menggunakan suara dan musik untuk mengembalikan tubuh menjadi selaras.
5.Kinerja Pengobatan Al-Qur’an
Dalam terapi penyembuhan melalui suara, para ilmuwan telah membuktikan bahwa setiap sel dari sel-sel otak bergetar dengan frekuensi tertentu, dan bahwa ada program yang ketat dalam setiap sel yang mengontrol kerjanya selama hidupnya, dan program ini dapat terpengaruh oleh guncangan eksternal, seperti benturan psikologis dan masalah sosial.
Sel-sel itu ketika terkena pengaruh goncangan akan merusak aktivitas program khusus yang mengarah pada gangguan goncangan yang beragam, dan kadang juga dapat mengakibatkan kerusakan sistem kerja secara keseluruhan lalu muncul berbagai jenis baik penyakit mental dan dan fisik. Para ilmuwan memastikan bahwa yang terbaik dan dapat memprogram ulang sel-sel itu, atau dengan kata lain melakukan rebalancing dan modifikasi goncangannya pada batasan natural karena mereka menemukan bahwa sel yang rusak kecil kemungkinan dipengaruhi oleh getaran yang berasal dari sel yang sehat dan bersih.
Para ilmuwan berusaha untuk mencari getaran suara yang mempengaruhi sel-sel yang rusak saat mendengarnya, dan mengembalikan keseimbangan padanya, proses pengujian dan experiment ilmu sedang berjalan hingga saat ini. Tetapi para ilmuwan Barat bergantung pada terapi musik dan suara alam dan frekuensi yang tetap dan inilah yang mereka lakukan.
Lalu datang peran pengobatan melalui Al-Qur’an dan do’a-do’a yang (ma’tsur) shahih, sebagaimana yang kita ketahui bahwa suara masuk ke dalam otak melalui telinga dan suara merupakan ungkapa dari getaran, dan ketika pasien mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Quran, maka getaran yang sampai pada otaknya dan memiliki dampak positif pada sel, dan membuatnya bergetar dengan frekuensi getaran yang tepat sesuai dengan fitrah Allah (ciptaan Allah).
Karena Al-Qur’an memiliki ciri keharmonian yang unik dari jenis yang tidak tersedia dalam kitab lain. Allah berfirman, “Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. (An-Nisa: 82).
Oleh karena itu Al-Qur’an merupakan sarana pengobatan yang terbaik dan termudah untuk mengembalikan keseimbangan sel yang rusak, karena Allah Maha Kuasa yang menciptakan sel dan Dia pula yang menitipkan di dalamnya akan program yang detail ini, sebagaimana Dia juga tahu yang terbaiknya, dan ketika Allah menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah sarana penyembuhan.
6.Al-Qur’an sebagai Obat Mujarab
Keberadaan setiap benda dan kehidupan di alam ini bermula dari getaran energi. Sebagai makhluk hidup, manusia mempunyai getaran tertentu sesuai dengan sifatnya. Tercapainya kehidupan yang sehat-sejahtera, karena getaran unsur-unsur yang terlibat di dalamnya beresonansi secara selaras.
Dalam lingkungan hidup kita ada getaran-getaran yang bisa ditangkap oleh indera pendengaran, itulah suara. Suara yang selaras dengan getaran tubuh manusia akan membantu mensejahterakan jiwa raga. Alam berlimpah dengan suara-suara seperti itu, misalnya kicau burung, desir angin, deru ombak, gemericik air, dan sebagainya.
Namun semakin bisingnya gaya hidup modern, suara alam itu kian terbungkam oleh bangunan-bangunan beton, deru yang memekakkan telinga, misalnya mesin, AC, TV, telepon, gelombang telepon seluler, klakson mobil dan lain-lain. Suara tak selaras ini berefek menimbulkan stres, marah. khawatir, tergesa-gesa, dan emosi negatif lainnya.
Alhamdulillah sebagai umat islam, ternyata kita masih bisa menemukan suara-suara yang menenteramkan jiwa dan dapat mengobati semua macam penyakit, yaitu ketika kita membaca doa-doa baik dari bacaan Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad ﷺ.
Allah Ta’ala berfirman :
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (Al-Isra: 82).
Berarti bahwa suara bacaan Al-Quran memiliki pengaruh tertentu pada pengembalian keseimbangan sel tertentu. Oleh karena itu, kita melihat banyak kasus yang bertentangan dengan medis, seperti beberapa jenis penyakit kanker, dengan Al-Qur’an mampu disembuhkan oleh Al-Quran insya Allah, karena perawatan dengan Quran hanya secara sederhana berarti melakukan reprogramming sel dalam otak untuk mengendalikan operasi esensial pada manusia dan mengembalikan tubuh kepada keadaannya secara alami dan meningkatkan kekebalan serta kemampuannya untuk melawan berbagai penyakit lainnya.
Dengan kata lain bahwa Alquran dan ruqyah syar’iyyah adalah proses mengaktifkan sel-sel otak yang bertanggung jawab mengendalikan tubuh dan meningkatkan tingkat energi di dalamnya dan membuatnya bergetar dengan cara alami. Salah satu hasil utama dari penelitian ini untuk meyakinkan lawan bahwa pengobatan dengan Al-Quran memiliki dasar ilmiah, dan untuk meyakinkan dokter untuk mencari manfaat dari pengobatan melalui Al-Qur’an di samping adanya obat-obatan, yang demikian itu penelitian ini juga merupakan sarana untuk meyakinkan non-Muslim akan kebenaran kitab Allah (Al-Qur’an), dan bukti mukijizat al-Quran dari sisi medis dan kesehatan mental.
Menurut hasil penelitian Ir Abdel Daem Al Kaheel, Pengaruh Luar Biasa dari Membaca dan Mendengarkan Al-Qur’an adalah :
1. Peningkatan kekebalan tubuh.
2. Peningkatan kapasitas untuk berinovasi.
3. Peningkatan kemampuan untuk fokus.
4. Perubahan signifikan dalam perilaku.
5. Kondisi jiwa yang lebih stabil.
6. Mampu mengontrol emosi, marah dan tidak ceroboh.
7. Mampu membuat keputusan yang baik.
8. Menghilangkan rasa khawatir, ragu-ragu atau cemas.
9. Kepribadian yang kuat.
10. Menyembuhkan penyakit yang umum diderita, seperti alergi, dingin, pilek dan sakit kepala.
11. Meningkatkan kemampuan berbicara dan kecepatan bicara.
12. Mencegah penyakit ganas seperti kanker.
13. Merubah kebiasaan buruk.
14. Menghentikan kebiasaan merokok.
15. Dan beragam khasiat positif lainnya.
======================
Website Resmi QHI :
1. www.qhi.or.id
2. www.quranic-healing.com
Website Resmi Pondok Rehabilitasi QHI
1. www.pondokrehabilitasi.com
2. www.pusatrehabilitasi.org
Kami meminta dengan keridhoan hati Donasi Untuk Dakwah Tauhid, Pembangunan Masjid dan Pondok Rehabilitasi QHI.
Donasi bisa dikirim via transfer ke Rekening Yayasan QHI
Bank : Bank Syariah Mandiri
No.rek : *(451) 7114862031*
A/N : Yayasan Quranic Healing Internasional
Bila sdh mengirim mohon konfirmasi ke +62-813-7966-6696, +62-857-1366-6696
Jazakumullah khairan katsiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here